Pengajian Rutin Setiap Malam Minggu

Sejarah Gampong

 

Dayah Sukon Bambi

Secara geografis Bambi terletak jauh dari pengunungan dan laut, berhampar luas sawah dan kebun-kebun. Tidak ada hasil alam yang sangat melimpah ruah di tempat ini seperti di beberapa tempat yang ada di Pidie khususnya atau di Aceh pada umumnya. Alamnya berupa sawah dan kebun, dan sebagai tempat yang sangat cocok untuk berternak sapi. Sawah dipakai oleh masyarakat untuk menanam padi pada saat musin hujan dan dipakai untuk menanam sayur pada saat pergantian musim kemarau, karena sumber air yang sangat terbatas. Sedang hasil kebunnya berupa melinjo, tembakau, kelapa, dan kakao dimana tanaman-tanaman ini sangat baik tumbuh di kabupaten Pidie.

Dalam keseharian, masyarakat Bambi banyak yang bercocok tanam di sawah atau dengan kata lain sebagian masyarakatnya berprofesi sebagai petani sawah dan kebun, peternak, sebagian kecil berprofesi sebagai wiraswasta, pegawai negeri sipil, dan alim ulama.

Terdapat dua unit sekolah tingkat dasar, satu unit sekolah tingkat menengah, dan satu unit sekolah luar biasa (SDLB/SMPLB/SMALB). Sedang untuk pendidikan agama terpadu berpusat langsung di Mesjid Darul Huda Bambi, satu unit Panti Asuhan Penyantun Islam, lapangan sepak bola Batu Putih. Secara keseluruhan semua unit ini berada di Keude Rabu, yang mana keude Rabu ini berfungsi sebagai pasar dan pusat keramaian masyarakat Bambi.

Selain pendidikan sekolah, kegiatan menuntut ilmu agama secara total masih sangat gemar digeluti oleh masyarakat, baik dari anak-anak, remaja, sampai dengan orang tua. Kegiatan ini dilakukan pada saat sore dan malam hari di dayah-dayah tradisional yang ada di Bambi. Dimana hingga sampai saat sekarang ini Bambi mempunyai dua Dayah Tradisional dan satu Dayah terpadu. Dengan harapan supaya lebih mendekatkan diri kepada Sang Khalik.